Dari Abdullah bin Amr bin Al-'Ash radhiyallahu 'anhuma โ hadits tentang kesempurnaan iman: hawa nafsu harus tunduk mengikuti ajaran yang dibawa Rasulullah ๏ทบ. (Catatan: Hadits ini tergolong dha'if menurut sebagian ulama seperti Syaikh Al-Albani, namun maknanya shahih dan didukung oleh Al-Qur'an).
Kecenderungan jiwa kepada sesuatu, bisa baik bisa buruk. Hawa nafsu yang tidak terkendali akan menjerumuskan ke dalam dosa.
Al-Qur'an dan As-Sunnah โ petunjuk hidup yang sempurna dari Allah.
"Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman hingga mereka menjadikanmu (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya."
Ayat ini menegaskan bahwa iman yang sejati adalah ketika hati menerima keputusan Rasulullah tanpa keberatan.
"Tidaklah pantas bagi orang mukmin laki-laki maupun perempuan, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu perkara, ada pilihan lain bagi mereka tentang urusan mereka. Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata."
Tidak ada ruang bagi hawa nafsu untuk memilih ketika Allah dan Rasul sudah menetapkan.
| Aspek | Iman Sempurna | Iman Lemah/Belum Sempurna |
|---|---|---|
| Hawa Nafsu | Mengikuti syariat (tabi' li ma ji'tu bihi) | ๏ฟฝMendahului syariat / melawan syariat|
| Sikap terhadap Perintah Allah | Mengerjakan dengan senang hati meskipun berat | Malas, menunda, atau mencari alasan |
| Sikap terhadap Larangan Allah | Meninggalkan dengan ikhlas meskipun diinginkan | Mencari-cari celah atau melakukan dengan sembunyi |
| Ketika Syariat Bertentangan dengan Keinginan | Mendahulukan syariat, mengalahkan hawa nafsu | Mendahulukan keinginan, mencari dalil yang sesuai selera |
Hadits ke-28 memerintahkan berpegang teguh pada sunnah. Hadits ke-41 ini menjelaskan mengapa harus berpegang pada sunnah: karena iman tidak sempurna tanpa hawa nafsu yang mengikuti sunnah.
Niat yang ikhlas adalah langkah awal. Hadits ke-41 ini adalah kelanjutannya: setelah niat ikhlas, hawa nafsu harus tunduk pada syariat.
Hadits ini (meskipun sanadnya diperselisihkan) mengandung makna yang sangat agung tentang hakikat iman: iman seseorang tidak sempurna hingga hawa nafsunya tunduk dan mengikuti ajaran yang dibawa Rasulullah ๏ทบ โ Al-Qur'an dan As-Sunnah. Ini adalah stand tertinggi keimanan karena iman bukan hanya keyakinan dalam hati dan ucapan di lisan, tetapi juga keselarasan hati, keinginan, dan perbuatan dengan syariat. Manusia modern seringkali ingin menyesuaikan agama dengan selera dan keinginannya (hawa nafsu), padahal seharusnya kitalah yang menyesuaikan diri dengan agama. Semoga kita termasuk orang-orang yang beriman sejati, yang hawa nafsunya mengikuti petunjuk Allah dan Rasul-Nya.
Ya Allah, janganlah Engkau serahkan diri kami kepada hawa nafsu kami walau sekejap mata. Jadikanlah kami hamba yang hawa nafsunya mengikuti petunjuk-Mu. Aamiin.